Anemia Hemoliotik

Menurut sehatq.com Anemia hemolitik adalah salah satu jenis anemia yang menyerang tubuh dengan cara sumsum tulang belakang tidak dapat memproduksi sel darah merah atau sel darah merah yang diproduksi adalah sel darah abnormal. Akibatnya sel darah merah yang abnormal tersebut akan dihilangkan oleh tubuh terlebih dahulu supaya sumsum tulang belakang dapat memproduksi sel darah merah yang baru. Kekurangan sel darah merah pada tubuh akan menyebabkan badan menjadi lemas dan mudah sesak nafas karena oksigen tidak tersebar dengan sempurna keseluruh bagian tubuh.

Sumsum tulang belakang tidak mampu memproduksi sel darah merah yang abnormal sehingga tubuh akan mengenal sel darah merah sebuah benda asing yang harus dihilangkan. Selain itu ada beberapa hal yang menyebabkan sel darah merah dapt hancur adalah tubuh mengalami infeksi, tubuh terpapar baahn kimia, racun-racun tertentu dan obat-obatan, terjadinya pembekuan darah di dalam tubuh, penderita menerima donor darah yang berbeda dengan golongan darahnya sendiri, terjadinya kecacatan genetik di dalam sel darah merah.

READ  Peran Dokter Umum dan Kemampuan yang Dimilikinya dalam Penanganan Medis

Beberapa gejala yang ditimbulkan penyakit anemia hemoliotik adalah : mengalami detak jantung yang terlalu cepat, mengalami perubahan warna kulit, merasakan nyeri pada dada, warna mata berubah menjadi warna kuning, mengalami sesak napas, urin berubah warna dari warna normal menjadi lebih gelap, merasakan perut terasa penuh dan limpa yang membesar, mengalami kenaikan dan penurunan suhu secara bergantian.

Setelah            mengetahui gejala-gejala di dalam tubuh segera periksakan ke dokter untuk diagnosa lebih lanjut. Dokter akan menyarankan melakukan tes darah untuk mengetahui jumlah sel darah merah, trombosit, dan kadar protein yang membawa oksigen.

Setelah diketahui hasilnya dan mengarah lebih besar terserang anemia hemoliotik akan dilakukan tes lebih lanjut seperti : tes coombs. Tes ini bertujuan untuk melihat tubuh menghasilkan antibodi terhadap sel darah merah atau tidak. Tes kimia darah, bertujuan untuk melihat kadar bilirubin yaitu zat yang muncul saat sel darah merah dihancurkan. Tes mengukur retikulosit yang bertujuan untuk mengitung kadar retikulosit dalam darah, apabila jumlahnya banyak berarti sumsum tulang belakang memrpoduksi sel darah merah lebih banyak untuk menggantikan sel darah merah yang dihancurkan tadi. Memeriksa sediaan apusan darah tepi di dalam morfologi darah.

READ  Penyakit Aneurisme

Setelah didiagnosa dan terbukti tubuh mengalami anemia hemoliotik maka akan disarankan untuk menjalani beberapa perawatan untuk mengobati penyakit berdasarkan jenis penyebab yang memunculkan penyakit menurut halodoc.com yaitu : perawatan obat yang berfungsi untuk mengembalikan kekebalan tubuh apabila penyakit yang timbul disebabkan oleh kekebalan tubuh. Perawatan dengan memasukkan asam folat ekstra ke dalam tubuh apabila penyakit disebabkan oleh sel darah merah kadarnya lebih sedikit karena terjadi pemusnahan sel darah secara besar-besaran sehingga diperlukan asam folat dan suplemen zat besi untuk mendorong produksi sel darah merah. Apabila penyakit terjadi dalam keadaan darurat akan dibutuhkan transfusi darah.

Selain transfusi darah juga dapat dilakukan operasi pengangkatan limpa di dalam tubuh. Tindakan operasi ini dapat dilakukan apabila dalam keadaan hemoliosis tidak merespon imunosupresan dan kortikosteroid.

READ  Tahukah Kamu Cara Mengobati Amebiasis?

Anemia hemoliotik tidak dapat dihindari karena penyakit ini merupakan penyakit turunan. Namun bisa menjadi pengecualian apabila tubuh juga kekurangan glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD). Apabila tubuh mengidap penyakit ini bisa menghindari faktor-faktor yang dapat memicu mengidap penyakit hemoliotik yaitu dengan menghindari kacang fava, naftalena, kamper, dan obat-obatan tertentu.

 

Sumber Hellosehat.com