Rabu, 22 Februari 2017

Sering Kencing Saat Hamil Muda

Seorang ibu yang sedang hamil muda mengeluh belakangan ini mesti bolak-balik ke kamar mandi. Penyebabnya, frekuensi kencingnya meningkat dibanding saat sebelum ia hamil.

Bahkan tak hanya siang, di malam hari pun ia kerap terbangun dengan rasa nyeri di bagian bawah perut karena kebelet ingin kencing.

Timbul pertanyaan, berbahayakan kondisi ibu hamil tersebut?

Kebanyakan ibu hamil muda memang mengalami gejala sering kencing. Gejala ini umumnya muncul pada usia kehamilan 6 minggu. Lalu akan terus berlanjut hingga usia kehamilan sekitar 3 bulan.

Gejala sering kencing saat hamil muda terjadi setidaknya karena dua kondisi.

Kondisi pertama, saat awal kehamilan tubuh ibu memproduksi hormon kehamilan. Hormon ini dikenal dengan nama HCG. Singkatan dari hormon chorionic gonadotropin.

Salah satu efek HCG adalah meningkatkan aliran darah ke ginjal. Karena darah yang disaring jumlahnya bertambah, maka otomatis hasil saringan berupa air kencing juga ikut bertambah.

Dengan bertambahnya volume produksi, kandung kencing yang berfungsi sebagai gudang penampungan sementara akan cepat penuh. Efeknya, frekuensi berkemih akan meningkat.

Sebenarnya ada hikmah dibalik meningkatnya produksi air kencing. Sampah metabolisme di dalam tubuh ibu akan lebih banyak dibuang.

Kondisi kedua, rahim yang terus menerus membesar akan menekan kandung kencing. Akibatnya kapasitas kandung kencing menjadi lebih kecil. Hal ini juga berefek terhadap peningkatan frekuensi berkemih.

Jika kita melihat kedua kondisi di atas, maka gejala sering berkemih saat hamil muda bukanlah sesuatu yang berbahaya, baik bagi ibu maupun janin.

Hanya saja, ibu mungkin menjadi repot dan kurang nyaman karena harus bolak-balik ke kamar mandi.

Untuk itu, perlu beberapa tindakan untuk mengatur frekuensi berkemih.

Tindakan pertama, mengurangi konsumsi minuman yang bersifat merangsang produksi air kencing, misalnya teh dan kopi. Selain itu, menghindari alkohol. Khusus untuk alkohol, bukan saja efek frekuensi berkemih yang menjadi alasannya, tapi juga karena efek buruk secara langsung terhadap janin.

Tindakan kedua, saat berkemih sebaiknya tubuh dicondongkan ke depan. Manfaatnya adalah kandung kencing akan benar-benar kosong setelah berkemih.

Tindakan ketiga, sesaat sebelum beranjak ke tempat tidur, ibu sebaiknya berkemih lebih dahulu. Dengan demikian tidur tidak harus terganggu karena tiba-tiba terbangun akibat kebelet kencing.

Mungkin ada juga sebagian ibu mengurangi jumlah cairan yang dikonsumsinya untuk meminimalkan frekuensi kencing. Hal ini tidak dianjurkan. Cairan dalam jumlah cukup penting bagi kesehatan janin dan ibu.

Kalangan medis menganjurkan ibu hamil minum cairan sekitar 10 gelas setiap hari. Ciri bahwa ibu cukup cairan adalah warna air kencing kuning muda atau jernih. Jika warnanya kuning tua atau coklat, berarti ibu kekurangan cairan.

Meskipun gejala sering kencing saat hamil muda tidak berbahaya, tapi ada kondisi yang mirip yang membutuhkan penanganan medis. Kondisi tersebut adalah sering kencing yang disertai gejala nyeri, air kencing bercampur darah, kencing keluarnya sedikit-sedikit, atau air kencing berwarna keruh. Bisa jadi kondisi ini adalah pertanda infeksi saluran kencing. Untuk itu, dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter.

Anda suka dengan artikel ini? Silakan bagi ke Teman Facebook Anda. [BAGI KE FACEBOOK]

Tidak ada komentar:

BACA JUGA

    Disclaimer

    Semua tulisan yang ada dalam blog BLOG-DOKTER hanya bertujuan untuk edukasi dan informasi semata. Baca DISCLAIMER selengkapnya.